Ketika mendengar kata Palembang, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada pempek, makanan ikonik yang telah menjadi simbol kuliner ibu kota Sumatera Selatan itu. Namun, di balik ketenaran pempek, ternyata Palembang masih menyimpan berbagai hidangan tradisional lain yang tak kalah menggugah selera. Salah satunya adalah Laksan, sajian lezat yang bisa disebut sebagai “pempek berselimut kuah santan”. Makanan ini menggabungkan tekstur kenyal khas pempek dengan kelembutan kuah santan berbumbu rempah yang kaya rasa, menjadikannya hidangan unik dan istimewa di antara ragam kuliner Palembang.
Laksan merupakan makanan khas yang sudah dikenal sejak masa kesultanan Palembang. Konon, hidangan ini dulunya hanya disajikan pada acara-acara penting seperti hajatan, perayaan adat, atau penyambutan tamu kehormatan. Hal ini karena bahan-bahan utama seperti ikan tenggiri dan santan dianggap bernilai tinggi, melambangkan kemakmuran serta penghormatan. Seiring berjalannya waktu, laksan mulai dinikmati oleh masyarakat luas dan menjadi salah satu sajian wajib saat bulan Ramadan, Lebaran, atau acara keluarga besar. Tidak hanya sekadar hidangan, laksan juga menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Secara umum, bahan dasar laksan tidak jauh berbeda dengan pempek. Adonannya terbuat dari ikan giling, biasanya ikan tenggiri atau gabus, yang dicampur dengan tepung sagu. Campuran ini kemudian diuleni hingga kalis dan dibentuk memanjang seperti pempek lenjer. Setelah itu, adonan direbus sampai matang dan mengapung, lalu dipotong-potong sebelum disajikan. Di sinilah letak perbedaan mencolok antara pempek dan laksan: jika pempek disajikan dengan kuah cuko yang asam pedas, maka laksan disiram dengan kuah santan berbumbu rempah yang gurih dan harum.
Kuah laksan menjadi elemen penting yang menentukan cita rasa hidangan ini. Santan dimasak bersama bumbu halus yang terdiri dari cabai merah, bawang merah, bawang putih, kunyit, ketumbar, jahe, lengkuas, dan serai, serta tambahan daun salam untuk aroma. Setelah bumbu matang dan wangi, potongan laksan dimasukkan ke dalam kuah, lalu disajikan selagi hangat. Rasanya gurih, sedikit pedas, dan memiliki aroma khas yang menggugah selera. Kombinasi lembutnya adonan ikan dengan kekayaan rasa santan menjadikan setiap suapan terasa begitu nikmat dan menenangkan.
Di balik kelezatannya, laksan juga menyimpan beberapa fakta menarik. Pertama, banyak orang menyebut laksan sebagai “versi sarapan” dari pempek karena biasanya disantap di pagi hari bersama secangkir teh hangat. Kuah santannya yang gurih dianggap cocok untuk mengawali hari. Kedua, di Palembang terdapat makanan sejenis bernama celimpungan, yang juga menggunakan bahan dasar ikan dan sagu, tetapi bentuknya bulat dan teksturnya lebih lembut. Keduanya sering disajikan berdampingan dalam acara keluarga besar atau perayaan hari raya.
Selain itu, laksan juga menunjukkan betapa kreatifnya masyarakat Palembang dalam mengolah hasil laut. Kota yang dikelilingi sungai ini memang kaya akan ikan air tawar, dan masyarakatnya telah lama terbiasa memanfaatkannya menjadi berbagai olahan lezat. Melalui laksan, masyarakat tidak hanya menonjolkan rasa gurih dari ikan, tetapi juga memperkaya cita rasanya dengan perpaduan santan dan rempah yang menjadi ciri khas kuliner Melayu. Tak heran jika makanan ini menjadi salah satu identitas penting dalam budaya makan orang Palembang.
Menariknya lagi, beberapa daerah di luar Palembang kini mulai memperkenalkan laksan sebagai bagian dari wisata kuliner khas Sumatera Selatan. Banyak rumah makan tradisional yang menyajikan laksan bersama menu lain seperti tekwan, model, dan pempek, sehingga pengunjung bisa merasakan beragam olahan ikan dalam satu tempat. Bahkan, beberapa inovasi modern pun bermunculan, seperti laksan instan dan laksan beku (frozen) yang memudahkan penikmat kuliner untuk menikmati kelezatan ini di mana pun berada.
Namun, di balik segala inovasi tersebut, cita rasa tradisional tetap menjadi daya tarik utama. Aroma santan yang harum berpadu dengan rasa ikan yang gurih dan lembut seolah mengajak kita menelusuri kembali sejarah panjang kuliner Palembang yang sarat makna. Laksan bukan sekadar makanan, tetapi sebuah warisan budaya yang menggambarkan keharmonisan antara alam, tradisi, dan kreativitas masyarakatnya.
Setiap mangkuk laksan seakan menyimpan kisah tentang masa lalu. Tentang keluarga yang tengah berkumpul, tentang tangan-tangan ibu yang dengan sabar memasak di dapur, dan tentang tradisi yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi. Dalam dunia modern yang serba cepat, menikmati laksan bisa menjadi cara sederhana untuk kembali menghargai proses, rasa, dan makna di balik setiap masakan Nusantara.
Dengan kelezatannya yang khas dan nilai budayanya yang mendalam, Laksan layak disebut sebagai permata tersembunyi kuliner Palembang. Ia bukan hanya sajian yang memanjakan lidah, tetapi juga pengingat bahwa di setiap daerah Indonesia, selalu ada cerita, sejarah, dan identitas yang tersaji di atas piring. Maka, jika suatu hari kamu berkunjung ke Palembang, jangan hanya mencari pempek tetapi carilah juga semangkuk laksan hangat, dan rasakan sendiri cita rasa warisan yang mengalir bersama kuah santannya yang gurih.
mirip lontong gitu ya
BalasHapusComfort food asal palembang 😍
BalasHapusunik juga yahhh
BalasHapusPatut dicoba nih kalo ke palembang
BalasHapusAAAAA INI DEBEST SIHH
BalasHapusKalo xincia nggak makan ini sama keluarga rasanya nggak afdol sih
BalasHapusenak bgt sih bayanginnyaa
BalasHapusWihhh, ini klo jual di cafe laku gasii
BalasHapussebagai pecinta pempek penasaran bgt sihh
BalasHapusnih baru kesukaan sayaa
BalasHapusenak pol si, wajib coba!
BalasHapusenak pol si, wajib coba!
BalasHapuspernah coba tapi versi pake mie gede kaya udon gitu, kayaknya sama2 enak yaa
BalasHapus