Brem: Cemilan Manis Beralkohol Ringan dari Madiun dan Bali


Sumber: Suarasikap.com

Pernah nggak, kamu makan sesuatu yang bentuknya sederhana banget, tapi begitu masuk ke mulut langsung bikin kamu mikir, “Kok unik ya rasanya?” Nah, kalau kamu pernah mencicipi brem Madiun yang langsung meleleh dengan sensasi dingin, atau melihat brem Bali yang disajikan dalam upacara adat, kamu pasti paham betapa menariknya satu jenis makanan ini. Brem memang bukan makanan yang viral atau tampil di setiap pusat perbelanjaan, tapi kuliner ini punya karakter kuat, berbeda dari kebanyakan camilan Indonesia, dan justru itulah yang bikin brem layak dibicarakan lebih dalam. Di balik bentuknya yang polos, ternyata brem menyimpan perjalanan budaya, teknik fermentasi tradisional, dan cita rasa yang unik di lidah.

Kalau kita bicara soal brem, sebenarnya kita sedang membahas dua tradisi kuliner yang berkembang di daerah berbeda yaitu Madiun di Jawa Timur dan Bali di Indonesia Timur. Menariknya, meskipun namanya sama, bentuk dan cara menyajikannya bisa jauh berbeda. Brem Madiun hadir sebagai camilan kering berbentuk balok putih kecil yang gampang rapuh. Rasanya manis dengan sentuhan asam khas fermentasi, lalu ada sensasi dingin yang bikin brem terasa ringan dan menyegarkan. Sebaliknya, brem Bali lebih dikenal sebagai minuman fermentasi beras yang punya kadar alkohol ringan dan biasanya hadir dalam konteks ritual adat. Dua jenis brem ini menunjukkan bahwa satu bahan yang sama dapat menghasilkan bentuk dan makna yang sangat berbeda, bergantung pada budaya yang membentuknya.

Untuk memahami brem, kita harus kembali ke dapur tradisional yang prosesnya mungkin terkesan sepele, tetapi sebenarnya cukup kompleks. Brem dibuat dari beras ketan putih, bahan yang umum ditemukan di banyak daerah Indonesia. Beras ketan ini direndam hingga cukup lembut, lalu dikukus seperti membuat ketan biasa. Setelah matang, ketan dicampur dengan ragi khusus yang akan memulai proses fermentasi. Ketan yang sudah diberi ragi lalu disimpan dalam waktu tertentu, biasanya beberapa hari, sehingga terjadi perubahan kimia yang menghasilkan cairan manis bergaya alkohol ringan. Cairan inilah yang menjadi dasar pembuatan brem.

Proses selanjutnya tergantung pada daerahnya. Di Madiun, cairan fermentasi ini dimasak kembali hingga mengental. Setelah diperoleh konsistensi yang tepat, adonan kemudian dicetak menjadi blok-blok kecil dan dibiarkan mengeras. Pada tahap inilah brem mendapatkan bentuk padatnya yang khas. Meski sekilas terlihat simpel, membuat brem yang enak tidak bisa asal-asalan. Perbandingan ragi, waktu fermentasi, dan tingkat kekentalan adonan semuanya menentukan apakah brem akan memiliki tekstur lembut yang meleleh halus atau menjadi terlalu keras. Itu sebabnya setiap produsen brem biasanya punya “rahasia dapur” yang diwariskan turun-temurun.




Sumber: Liputan6.com


Sementara itu, brem Bali melalui jalur yang sedikit berbeda. Cairan fermentasi dari ketan tidak dimasak hingga menjadi padatan, melainkan dipertahankan dalam bentuk cair. Brem versi ini lalu digunakan sebagai minuman tradisional yang umumnya hadir dalam upacara adat, seperti persembahan tertentu dalam ritual keagamaan masyarakat Bali. Jadi bisa dibilang, brem Bali bukan sekadar minuman, tetapi juga simbol penghormatan dan bagian penting dari tradisi spiritual.

Rasa brem sendiri sulit dibandingkan dengan camilan lain. Brem Madiun memberikan kombinasi rasa yang cukup kompleks meskipun terbuat dari bahan sederhana. Pada gigitan pertama, teksturnya terasa rapuh, seolah-olah mudah hancur. Tetapi begitu menyentuh lidah, ia langsung meleleh, memberikan sensasi dingin yang jarang ditemukan pada makanan lain. Rasa manisnya terasa ringan dan bersih, tidak terlalu menusuk. Kemudian ada sedikit rasa asam yang muncul dari proses fermentasi, membuat sensasi manisnya tidak membosankan. Sensasi ini membuat brem menjadi camilan ideal untuk dinikmati saat santai atau sebagai oleh-oleh untuk teman dan keluarga.

Lebih jauh lagi, keunikan brem bukan hanya muncul dari rasanya, tetapi juga dari cara fermentasi memberikan karakter yang tidak bisa ditiru dengan teknik pengolahan biasa. Fermentasi adalah salah satu teknik paling tua dalam sejarah manusia. Banyak bangsa memanfaatkannya untuk menciptakan makanan tahan lama atau menghasilkan cita rasa unik. Namun di Indonesia, fermentasi tidak hanya dipakai untuk kebutuhan praktis, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari identitas budaya. Brem adalah salah satu contoh terbaik bagaimana sebuah teknik kuno bisa dikemas menjadi makanan yang relevan sampai sekarang.

Menariknya, brem sering dianggap sebagai oleh-oleh kampung halaman, tetapi posisinya sebenarnya lebih luas dari itu. Ia adalah bukti kreativitas masyarakat lokal dalam mengolah bahan sederhana menjadi produk dengan ciri khas kuat. Ketika brem Madiun menemukan tempatnya sebagai camilan sehari-hari dan suvenir populer, brem Bali tumbuh bersama tradisi spiritual masyarakatnya. Keduanya sama-sama menjaga nilai budaya yang mengikat mereka dengan sejarah daerah masing-masing.

Secara tidak langsung, brem juga mengingatkan kita bahwa kuliner Indonesia bukan hanya soal rasa gurih, tapi ada banyak makanan yang memiliki cita rasa unik, bahkan terasa asing bagi lidah sebagian orang. Justru keberagaman inilah yang membuat kuliner Nusantara kaya dan tidak pernah habis untuk dieksplorasi. Dari sambal asam manis, makanan fermentasi, hingga jajanan tradisional yang hampir punah, setiap daerah menyimpan cerita yang menunggu untuk dikenalkan kembali pada generasi muda.

Pada akhirnya, brem bukan hanya tentang rasa manis yang meleleh atau aroma fermentasi yang khas. Ia adalah tentang hubungan antara makanan, tradisi, dan identitas budaya. Meski bentuknya sederhana, brem menyimpan aspek sejarah yang melampaui sekadar camilan. Inilah alasan mengapa brem tetap bertahan: karena ia tidak hanya dinikmati, tetapi juga diwariskan.

Komentar

  1. Baru tau ada yg namanya brem bali dan bentuknya minuman, tau nya yang padet warna putih dingin2 kalo dimakan 😁

    BalasHapus
  2. kalo makan kebanyakan jadi eneg yaa

    BalasHapus
  3. rasanya unik ya dia, dingin2 gitu di mulut

    BalasHapus
  4. Kalo nggak nyoba brem bali sih bakal nyesel pastii

    BalasHapus
  5. Ini menarik banget sihh

    BalasHapus
  6. wkwkwk mirip suara motor brem brembrem

    BalasHapus
  7. baru sadar kayanya banyak bgt deh makanan tradisional yg brlum pernah kumakan

    BalasHapus
  8. pengen nyoba brem bali, tapi takut mabokk

    BalasHapus
  9. namanya unik ya, bremmmm

    BalasHapus
  10. bremm bremm, ngengg ngenggg

    BalasHapus
  11. enak, tp kalo makan banyak2 jadi pusing dan eneg wkwkwk

    BalasHapus
  12. katanya brem bisa nyembuhin jerawat juga lohh

    BalasHapus

Posting Komentar